Seorang warga Malaysia mengemudikan mobil secara ngawur sejauh 30 km di jalan raya antarkota Negara itu. Menurut harian The New Straits Times, Selasa, 27 Juni 2006, laki-laki berusia 80 tahun itu tanpa sadar mengemudi di jalur yang salah dan melawan arus lalu lintas yang benar.

Saat diberhentikan polisi, laki-laki gaek itu malah bertanya,”Mengapa begitu banyak mobil di jalan dan mengapa semua pengendara mengedipkan lampu besar ke arahku?” Ah Pee, laki-laki tua itu, telah salah membelokkan dalam perjalanan pulang di Negara Bagian Kedah, Malaysia Utara, yang membuatnya memasuki Nort-South Expressway, jalan raya enam lajur yang membelah Malaysia dari utara ke selatan.

Begitu sadar salah, ia berputar dengan memotong median jalan. Keadaan menjadi makin gawat karena ia jadi berada di jalur paling tengah, berhadapan langsung dengan mobil-mobil yang melaju dari arah sebaliknya. Polisi menghentikan kakek Ah Pee setelah ia berputar dan memandunya pulang. “Saya bilang, lain kali ia sebaliknya minta diantar saja oleh orang lain kalau ingin bepergian,” kata seorang polisi.

Sewaktu mengemudi di jalan raya, pasti ada rambu-rambu lalu lintas, dan kakek Ah Pee tidak melihat atau mengabaikannya. Sewaktu ia salah jalur juga sudah diberi tanda oleh pengemudi lai, tetapi kakek ini malah heran kenapa orang melakukan hal tersebut, mungkin ia malah menganggap mereka iseng.

Saat mengemudikan kehidupan kita, Tuhan tahu bahwa manusia rawan untuk berbuat dosa. Oleh karena itu, kita juga diberi rambu-rambu yaitu firman Tuhan. Kadang kita tak menyadari bahwa kita telah mengambil jalur yang salah, bahkan melawan arus. Kadang kita juga protes kalau ada pihak lain yang mengingatkan, padahal kita merasa tidak bersalah, orang lainlah yang suka ikut campur urusan orang. Lebih parah lagi, kita malah mencari kambing hitam seperti yang dilakukan nenek moyang kita, Hawa dan Adam, ketika mereka jatuh dalam dosa.

Oleh karena itu, kita seharusnya sadar akan kelemahan kita, yaitu bahwa kita bisa dengan mudah salah jalur. Untuk menghindari hal itu. Kita seharusnya memerhatikan rambu-rambu kehidupan kita, yaitu firman Tuhan, dan meminta pertolongan Roh Kudus, agar kita diberi kepekaan akan dosa. Kepekaan ini juga harus kita latih setiap hari., karena kalau tidak,  lama-lama kita akan kehilangan kepekaan terhadap dosa. Dan, yang paling mengerikan adalah jika kita tidak merasa berbuat dosa, seperti yang dialami oleh Kakek Ah Pee dalam kisah di atas.

Perbuatan dosa kita, disamping membahayakan kita, juga membahayakan orang lain, baik keluarga kita, sahabat-sahabat kita,  maupun saudara seiman kita.

Selamat menaati rambu!