Cinderella dan Alkitab

Sumber: Imelda Seloadji

Seorang wanita feminis yang menentang budaya patriarkat pernah mengkritik Alkitab yang menurutnya masih bersifat patriarkal.

Ya, tokoh-tokoh di dalam Alkitab memang lebih banyak kaum pria dibanding wanita, dan Abraham, Ishak, Yakub sering dikenal sebagai “para bapak atau “the patriachs”. Lalu apakah memang Allah membedakan laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki ditempatkan pada derajat lebih tinggi? Tentu saja tidak, karena Alkitab mengatakan bahwa perempuan diciptakan Allah sepadan dengan laki-laki (Kejadian 2:18). Juga Paulus mengatakan bahwa di dalam Kristus, tidak ada pembedaan laki-laki dan perempuan (Galatia 3:28). Lalu mengapa di banyak tempat wanita masih sepertinya ditindas oleh budaya yang patriarkal, seperti kata filsuf Simone de Beavoir, wanita hanya dinilai sebagai “jenis kelas dua” atau “the second sex”, mahluk yang lain dan merupakan “lesser creature” daripada laki-laki. Afghanistan di era Taliban, melarang perempuan sekolah, dan harus menutup seluruh tubuh dan wajahnya dalam selubung kain hitam burkha. Di Pakistan, National Geographic pernah menayangkan bagaimana tingginya kekerasan domestik di mana perempuan dianiaya, bahkan dibunuh oleh suaminya sendiri tanpa perlindungan hukum yang jelas.

Hidup dalam dosa, adalah hidup dalam perhambaan. Laki-laki maupun perempuan. Apakah dosa perempuan? Di sebuah camp wanita saya diajarkan bahwa dosa wanita mencakup keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Wanita sering sadar maupun tidak, menghambakan diri pada hal-hal ini. Kaum feminis mengkritik iklan-iklan yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Sabun mandi, rokok, aneka jenis lotion, obat kuat dan sebagainya. Belum lagi sinetron- sinetron biaya rendah yang hanya menampilkan tubuh sexi dan wajah cantik tanpa kualitas cerita dan akting. Nah lucunya, mengapa wanita-wanita yang kita lihat di TV tersebut tak keberatan “menjual” tubuh dan wajah mereka, tanpa menggubris kemarahan kaum feminis dan religius? Karena mereka punya banyak keinginan dalam hidup ini. Mereka bermimpi akan Cinderella, yang dari gadis pembantu menjadi putri yang tinggal di istana.

Majalah-majalah wanita, sering banyak iklannya daripada artikelnya. Sepatu, gaun, perhiasan, dan sebagainya. Mamon yang begitu berkilau membuat perempuan menghambakan diri pada keinginan matanya. Keangkuhan hidup. Ambisi memperbaiki status sosial membuat banyak perempuan kita mencari pria bule atau pejabat yang diharapkannya mampu meningkatkan derajat hidupnya. Celakanya, mereka kadang tak peduli pria-pria itu sudah menikah atau belum. Sebuah desa yang saya sempat kunjungi saat Kuliah Kerja Nyata dulu sepi dari anak-anak gadis dan perempuan usia belasan hingga 30 tahunan karena para gadis “bekerja” di kota, sementara para pria di rumah, menikmati “hasil kerja” anak atau istri mereka yang “bekerja” tersebut. Di kantor saya, seorang wanita yang menjadi menantu mantan gubernur suatu propinsi begitu bangga dengan statusnya sampai tak menyadari bahwa yang disorot orang lain adalah sikap dan inteligensia karena ini adalah dunia akademik. “Pernahkan kau bermimpi menjadi Cinderella?” Pertanyaan tersebut pernah diutarakan seorang laki-laki kepada saya. “Jangan, jangan bermimpi menjadi Cinderella” katanya. Lalu dengan bercanda saya jawab, “Tidak kok.

Dulu waktu kecil saya bermimpi menjadi Napoleon…” Mengapa saya tak bermimpi jadi Cinderella? Bukan karena saya pejuang feminis, saya bahkan tidak memahami dengan baik feminisme, tapi karena saya tahu saya anak Allah, itu kata Alkitab. Orang yang percaya kepada Kristus diberi status anak Allah, karena Kristus Putra Allah tinggal di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia. “Tetapi perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasaanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan…” (1 Petrus 3: 3-5).

Dalam versi King James, manusia batiniah disebut sebagai “inner man”. Loh kok “man” bukan “woman”?, karena tidak ada bedanya. Manusia yang sebenarnya di dalam kita adalah manusianya Allah (man of God). Abraham, Musa, Daud, Daniel disebut Men of God. Kita perempuan diharapkan Allah menjadi sama seperti mereka, para patriarkh, dalam iman dan kasih kita kepada Allah. Standar Allah sama untuk pria maupun wanita. Maka tidak ada perempuan yang tertindas oleh budaya patriarkat, tetapi wanita-wanita Allah punya spirit yang sama dengan para “patriarchs”. Beriman seperti Abraham, lembut seperti Musa, penyembah penuh cinta seperti Daud, setia dan berhikmat seperti Daniel, tahan cobaan seperti Ayub, dan seterusnya. Kalau kita merelakan diri kita dibentuk Allah, kita akan menjadi putri-putri kerajaan Surga. Cantik dan gagah di mata Allah, bukan dunia. Saya tidak mengatakan saya sudah hebat, begitu banyak kekurangan dalam diri saya yang sering membuat saya kadang putus asa. Tapi saya mau d ibentuk oleh Tuhan. Saya rindu kehendakNya jadi dalam hidup saya, juga anda semua.

Putri-putri kerajaan Eropa atau putri-putri konglomerat dunia carut marut hidupnya meski tinggal di istana mewah. Jangan mau jadi Cinderella.

Be the Princess of The Kingdom of God! Go forth princesses! Tuhan memberkati.