Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis (Kidung Agung 2:2)

Wanita,……ada seorang Pendeta bercerita tentang sepasang suami istri yang rukun pernikahannya sampai mereka menjadi tua. Rahasia mereka sederhana. Setiap hari mereka masing-masing menuliskan kata-kata cinta,…. di tempat-tempat tertentu di sekitar mereka-di secarik kertas yang disisipkan di wadah gula, di kaca cermin, di gundukan pasir kebun, atau di lipatan kemeja bekal perjalanan ke luar kota. Malamnya sang suami akan bercerita (atau menelepon dari luar kota) bagaimana ia menemukan tulisan tersembunyi istrinya, dan sang istri bercerita sebaliknya. Kebiasaan itu memupuk kemesraan mereka hari demi hari. Mereka selalu menyatakan bahwa,… “lihatlah, betapa aku mencintaimu!”

Salomo menulis kidung panjang tentang sepasang kekasih yang bernaung di bawah panji cinta. Dalam cuplikan yang kita baca, si gadis merasa dirinya seperti bunga mawar dan bunga bakung, jenis bunga yang mudah ditemukan di Israel. Ia mungkin menganggap dirinya gadis yang biasa-biasa saja. Namun, kekasihnya berpandangan lain. Di matanya yang penuh cinta, gadis itu “seperti bunga bakung di antara duri-duri”-sosok yang istimewa, menyita perhatian, dan layak dipuji.

Bahasa cinta, yang dilandasi dengan penghargaan terhadap pasangan yang kita cintai, memang vital untuk membina kemesraan pernikahan. Di sebuah situs internet ada nasihat jitu mengenai hal ini. Bunyinya, “Jangan mengatakan ‘Aku cinta padamu’ kalau kau tidak bersungguh-sungguh. Namun, kalau kau bersungguh-sungguh, ucapkanlah hal itu sesering mungkin. Orang mudah lupa”

Wanita,…. .kita masih harus terus mengungkapkan kata-kata cinta buat pasangan kita sesering mungkin,… Seperti tanaman,… yang harus setiap hari di rawat,… siram dan dipupuki.

UNGKAPKAN CINTA ANDA KEPADA PASANGAN SESERING MUNGKIN MELALUI SIKAP, UCAPAN, DAN TINDAKAN.